Rabu, 26 April 2017

What came after 13 Reasons Why?

Higher level of depression.

JK. Hahaha

A week before I watched 13 Reasons Why, I just finished Bones Season 12. Last season of Bones after years I watched it since high school. I equally spent my time on both series. But, watching 13 Reasons Why felt really slow. "damn dude, just finish the tape, Clay!" Hahaha.

I was excited when some friends talked about it on their home line post. "A series about suicide? Definitely gonna watch it." I expected it as a good series. And it actually is. It basically talk about everything around us that we choose to overlook everyday. Bullying, rape, consent.

Some people really need to learn about consent. If you think consent is about sex only, you got it totally wrong. Everything needs your consent. You want it, you don't want it. It can be disaster if you do something (that you think it will be good) for someone without their consent. You can see it when Ryan published Hannah's poem, even when Hannah rejected it. He thought it was a good that people read Hannah's poem because it is a good poem. Other than appreciate it, instead people talked about it as an erotic thing. And it made Hannah more stressed out. It can be happening anytime anywhere to anyone. You and me. We think we do good for people, but it actually violate their privacy. We do it without their consent, or even they actually say that they don't want it. We do harm, instead.

It says more about bullying. "you should be proud, Hannah. You made it to the hot list" shit people say. It is a catcall. Catcall is sexual harassment. You should stop saying it is a compliment. Rape is not compliment. Sexual assault never be a compliment, as seen as because you're hot, you're beautiful, you're cute etc.

It says more about what we do always affect something else, someone else. Seriously, I like this series because finally people look at suicide as result of people who do bad things. Not just a person who give up. Some of us often judge people who choose to kill themselves. But we never really look beyond it. What actually happen? Why they choose it? Is there anyone who help them through bad things? Can we help? Did I do bad things to them? Did I also part of the reason they did it? Did I kill them? No, most people don't ask these questions. Do you know what comes after suicide? More bullying. "Lemah sih" "Gitu aja bunuh diri" "Yaudah sana mati aja" and so on. But, it is important thing to remember that after all, it still their decision to kill themselves. We can feel guilty because we do bad things to them, but it should be a reminder to do good for other people.

After all, suicide never solve problems. It passes the sadness from one to another. From the person who kill themselves to their family and loved ones. It just hurt more people. And what can we do? Help others.

Jumat, 04 November 2016

Nov 4th 2016, in Jakarta.

My parents worried all over the place about today. My workplace is not that near from the crowded took place. I have a thing today, a good thing to do. I am excited about it, but they told me to not go. Just go home after work, don't go anywhere else.

My aunt told her women employee to wear pants today, so they can run whatever happens. She also wear pants and sport shoes. I was not afraid the way they are. I didn't think it will be really scary out there.

Last night, I still wanted to go. I prepared what I have to bring. I was excited. I thought they just worried too much.

But with everything all over my social media, I think they are reasonable, because they know how 1998 happened. I don't remember and I didn't see it by myself. I just remember my mother complained about how expensive things were.

You can see everyone stood up for the way they think. I went to good school, the best I could get and my parents could pay. I am surrounded by smart people. Mostly, they can speak beautifully. They used their knowledge to support what way they choose. This is why I thought I will be fine. "It will be just one good day." But, some people showed me how violent out there. People trash-talked. Spread the hatred. I cringed.

God is perfect, human is the one who need God's protection.

After all, we believe what we want to believe. We see what we want to see. We hear what we want to hear.

Kamis, 07 April 2016

This is how we respond "one for lifetime" thing

"jadi, aku pernah cerita ke Dean kalau aku pagi itu mimpi buruk. terus aku cerita ke dia kalau aku mimpi dideketin orang, terus rasanya seneng banget. terus Dean tanya kenapa aku bilang itu mimpi buruk. aku bilang ke dia kalau pas aku bangun, aku sedih banget, karena nyadar hal kayak gitu ga bakal kejadian lagi. aku ga bakal dideketin sama orang lagi, ga bakal suka-sukaan ga jelas lagi sama orang."

dan dia cuma merespon dengan "unyu kan?" sambil senyum dan megang helm yang mau dipasangin ke kepalaku.

geez. he turned my world upside down, like he usually does.

Jumat, 05 Februari 2016

SATUFISIP bagiku

Sudah beberapa hari setelah aku menseriusi kawan perjuangan untuk bersedia menemaninya mengurus persiapan kontingen #SATUFISIP. Ada yang heran aku menjawab tanpa berpikir panjang, ada yang bertanya mengapa. Berbeda dengan beberapa orang yang mulai gamang dengan kompetisi ini, bahwa kita sudah cukup dengan prestasi 3 besar di setiap lomba tiap tahunnya, aku berpikir bahwa bagi beberapa orang aktualisasi diri di tingkat ini masih merasa akan membanggakan. Dan mengapa harus mengecewakan mereka?

14 Februari 2015. 20.22

itu secuplik tulisan yang aku buat di salah satu file yang memang aku niatkan untuk jadi cerita tentang masa bakti terakhirku di BEM FISIP. Tidak terasa, ternyata pembicaraan itu sudah mulai di bulan Februari, ya. Masih ingat dalam rapat itu, si orang gondrong itu ditanya sama yang lain, 
"Dat, jadi gimana, lo siap ga jadi koordinator persiapan SATUFISIP? terus ambil wakil ga?"
"hmm iya yaudah lah........................nah buat wakil, gue pikir-pikir, gue mau ambil Eno aja, kan dia juga koorbid yang ngebawahin keilmuan, jadi ya ntar kerjaannya gitu-gitu dah"
yang lain menengokku, dan bertanya bagaimana pendapatku
"ooh.. yaudah oke."
"Bodat mikir jadi koor aja lama banget ya, ini Enok main iya iya aja kayak ga pake mikir" kata Bestari

*memang banyak ga akuratnya, tapi intinya gitu :")
hahaha, aku merasa tidak punya pilihan lain, sejujurnya. Toh apapun yang terjadi, persiapan FISIP menuju OIM juga ada dibawah pengawasanku, jadi ya, kerjakan saja.

berhari-hari berusaha mencari tahu lebih tentang apa itu SATUFISIP, bagaimana sejarahnya, bagaimana cara kerjanya, apa hambatannya, apa kekurangannya, apa yang harus diperbaiki, apa, apa, apa, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana. Kaget, tentu, tapi juga semangat akan hal baru.

Sampai akhirnya kita dilengkapi dengan 3 ketua kontingen, 1 wakil ketua kontingen, dan 3 kepanitiaan persiapan.

nama grup line kita "malaikat FISIP". Cocok sama kalian, yang sabarnya ga ketolong, kayak ga pernah sakit hati. Jarang marah, ga deng, marah sering tapi cuma sama panitia dan departemen BEM UI yang mengadakan kompetisi ini :")).

Hambatan pertamaku adalah betapa susahnya menyamakan frekuensi sama Bodat, karena sebeda itu ritme kerja dan cara mikir kita. Masih inget banget, aku ngobrol sama Tya (wakadep Bodat tahun lalu) biar paham kalau kerja sama Bodat harus gimana :". Masih inget banget udah ga semangat karena merasa ga jelas di SATUFISIP karena udah dihandle sama Bodat dan Azka buat urusan administratif dan keuangan (dan emang kerjaan belum banyak di masa itu sih). Kalau diingat-ingat sekarang, cuma mau ketawain diri sendiri.

Melihat perjuangan kontingen itu moodbooster. Melihat mereka latihan rutin, melihat mereka rame kasih semangat satu sama lain di grup kontingen. Kalau sudah begitu, rasanya diri sendiri belum melakukan apa-apa buat mereka, buat setidaknya bikin mereka merasa sendirian, pun buat FISIPnya. Apalagi saat jadi salah satu admin akun LINE SATUFISIP, makin-makin bahagia kalau banyak yang tanya soal jadwal dan tempat.

Masih inget gak, dulu kita disuruh maju buat kenalan di acara PSAK hari kedua? Semua yang ga biasa ngomong di depan, tahu-tahu harus ngomong dan jelasin apa itu SATUFISIP, Olim, OIM, UI Art War. Semuanya grogi, mana habis itu mimpin parade maba? Hahaha.

Tapi ada kumpulan orang yang harus banget dimakasihin, karena mereka yang sebener-benernya nyiapin kontingen dari yang kecil-kecil sampe gede-gede. nyiapin jadwal latihan, nyiapin konsum latihan, nyiapin konsum pertandingan, nemenin dari latihan sampe tanding, ngurusin administrasi buat dikumpulin, nyari duit biar semua bisa jalan, dokumin latihan, bikinin publikasi sepanjang pra sampe pasca kompetisi. Ya Allah kalau bukan karena anak-anak tulus FISIP Juara, FISIP Goes To OIM, dan FISIP for UIAW, kontingen mungkin ga akan berjuang segininya sampe 3 piala juara umum di FISIP. Makasih ya :).

personally, aku bakal makasih banget sama anggota Malaikat FISIP. Makasih buat Bodat, gue gatau mau ngomong apa LOL, hmmmm makasih deh buat setahun atas ketololan, kesialan, ke-ngga-punya-duit-an, ketiduran, kekhilafan, ke-seenak-jidat-an, ke-ngga-paham-lo-ngapain-an, kebersamaan, ke-saling-lengkapin-satu-sama-lain-an, dan hal baik lain yang malah ga kepikir pas nulis. LOL. Makasih buat Defi yang kalem, sabar banget, yang kalau aku bilang "iya kmrn di kos aja soalnya sakit" terus dijawab "lah sakit lagi?" sampe bosen ya Def? :")), yang kalau ketemu "kak, napa sih kurus banget" aku jg mau bilang "Def, elah napa sih cantik banget" :(, kegercepan menghadapi Rangga dan Diky wkwk, yang kritis kalau nemenin kontingen latihan, rajin ngobrakin anak OIM Quiz garagara suka molor wkwk. Makasih banyak ya, Def. Makasih buat Ferdi yang ngeselin abis, suka usil, suka bikin ga paham ngapain sih kok ada orang begini yak, yang kalau suruh speech pasti langsung lempar ke Defi hahaha, temenku yang senasib dan setia bilang "kan cuma wakil" :)). Makasih banyak ya, Fer. Makasih buat artis Jakarta, Dania, yang selalu ngeramein grup, ngakunya sabar tapi kalau udah ketemu panitia rasanya kayak cabe mau diuleg, yang kalau ngirim chat emotenya banyak dan panjang kek :"""""""""") gini, yang pas RPP grogi berat kayak lagi dilamar orang, yang sakit pas takor mati lampu dan UIAW udah jalan. Makasih banyak ya, Dan. Makasih buat Facil, yang cool abis di saat semua cewek2 di grup rame, yang ga pernah ngeluh, kalau ditanya semua udah beres, yang rendah hati banget dan selalu bilang "pialanya punya Depor", yang rumahnya jauh jadi kudu nginep kos orang, yang paling jarang tai-taiin panitia (jarang, bukan ga pernah LOL). Makasih banyak ya, Cil. Makasih buat Azka, yang paaaaliiiing sabar ngurusin duit, muter otak duit mana dipake buat bayar polo, bikin TOR biar duit cepet turun, temen klop buat berkonspirasi ngurusin kecil-kecil yang ga kepegang sama Bodat, temen curhat, temen ngomongin orang. Makasi banyak ya, Zka. Makasih buat Nanda, yang paling sabar ngurusin printilan bon-bon an, ngurusin list nama yang suka ga jelas kenapa jumlah kontingen segini tapi namanya segitu, yang sabar hubungan sama bendahara-bendahara panitia persiapan dan nungguin harap harap cemas, yang mau berdamai denganku buat SATUFISIP. Makasih banyak ya, Nan.

Aku sadar betul, aku bukan orang yang paling banyak bekerja dan berkorban di sini. Aku cuma remah-remah pelengkap yang ga setiap saat hadir di presentasi, penampilan, dan pertandingan. Aku cuma berusaha mensyukuri kehadiran kalian. Aku jujur tak menyangka akan bahagia, sebegininya di akhir tahun ini. Lagi-lagi terima kasih sudah membuat penutup manis di tahun terakhirku.

Foto pertama kali bareng ber-enam. Habis parade tengah malem
menyambut kemenangan FISIP di Olim UI. Pertama kalinya piala-
piala juara Umum bersebelahan.
selamat ya, sayang-sayang, treblenya. Alhamdulillah ga ada yang harus iri, semuanya dapet piala juara umum, semuanya akur saling menyayangi :"))

Foto ber-enam lagi di Malam Apresiasi SATUFISIP dan Fisipresiasi. Oiya, itu
(dari kiri ke kanan) Enok, Facil, Defi, Dania, Ferdi, Bodat.
Dan sekarang semuanya sudah ditutup dengan rapi, baik, dan manis. Piala-piala juara umum sudah bersanding bersebelahan untuk setahun ke depan di rumah kita bersama. Kita sudah sama-sama bilang terima kasih kepada semua pihak di FISIPRESIASI kemarin. Jadi, habis ini pada mau ngapain?

Kamis, 22 Oktober 2015

terpaksa atau memilih

waktu itu aku pernah bilang pada temanku, "ga tau ya, tapi aku pernah patah hati sekali, jadi menurutku kalau itu terjadi lagi..I know I will survive it too."

dan aku mau pegang kata-kata itu. biar aku ga takut sendirian. biar aku ga mempertahankan hubungan hanya karena aku ga mau ngerasain pahitnya sakit hati. karena terpaksa mempertahankan. terpaksa berarti tak punya pilihan.


aku mau mempertahankan karena aku memilih untuk mempertahankan, meskipun punya pilihan yang lain. karena pantas dipertahankan.