Tampilkan postingan dengan label feel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2025

Seni Menyesal?

Barangkali hidup itu soal seni menyesal.

If you marry, you will regret it; if you do not marry, you will also regret it; if you marry or do not marry, you will regret both. - Søren Kierkegaard

Kalau dipikirkan lebih dalam, ini bukan hanya soal menikah. Apapun juga bisa begitu. Bekerja di sini atau tidak di sini. Tinggal di sini atau di sana. Karena, nyatanya, tidak ada hal yang benar-benar sempurna. Jadi penyesalan itu pasti ada. 

Sakit, sedih, gundah, pasti akan muncul di sana sini. Begitu juga senang, haru, gairah. Mereka juga akan muncul di perjalanan panjang.

Jadi barangkali hidup ini perkara seni menyesal. Maupun seni-seni perasaan yang lain. Bagaimana kita mengolahnya. Bagaimana membuat ia terasa lebih kecil daripada perasaan-perasaan lain. Atau mau perasaan yang mana yang dibesarkan?

Selama ini, aku selalu takut menyesali. Menyesali A, B, sampai ZZZ. Padahal bisa jadi banyak perasaan-perasaan lain yang akan kurasakan.

Sama seperti kemampuan lainnya, menikmati rasa juga butuh latihan. Tak ujug-ujug pandai dan mulus dijalankan. Barangkali memang begitu, manusia hanya wajib belajar dan berlatih seumur hidup. Termasuk perkara menyesali, bahagia, dan bersyukur.

Senin, 29 April 2024

Kumpulan Kepingan

Tidak ada dari kita yang berdiri dengan sendirinya. Semua bagian dari aku adalah bagian dari orang lain. Bagian dari kumpulan masa-masa. Bagian dari banyak tempat. Tak pernah kita berjalan dan pulang dengan tangan kosong. Secuil, sejengkal, segenggam. Orang, masa, tempat. Sekumpulannya menjadi aku yang sekarang.

Aku punya kuning langsat nenekku. Aku punya kecerdikan eyang putriku. Aku punya temperamen ayahku. Aku punya keras kepala ibuku. Aku punya kebiasaan aneh eyang laki-lakiku. Aku punya wajah galak kakekku. Aku belajar mengumpulkan serpihan sabar kakakku.

Minuman favoritku pernah jadi favorit orang lain. Celana favoritku pernah jadi celana pilihan orang lain. Jam tangan kesukaanku pernah jadi kesukaan orang lain. Buku-buku yang kubaca, pernah jadi kawan berpikir orang lain.

Serpihan-serpihan milik orang lain, entah terbawa dengan sengaja atau tidak, kini jadi milikku. Jadi bekalku. Sehari-hari kubawa melangkah, menyusuri jalan-jalan aneh di tengah kota.

Bukankah rasanya mudah, jika menyadari apa yang milik kita sebenarnya hanya kumpulan serpihan? Tak pernah benar-benar utuh. Maka genggaman tangan ini harusnya tak perlu sekuat itu. Jika waktunya terlepas, maka terhempas pula ia.

Bukankah lebih bermakna, jika menyadari bahwa persimpangan jalan tak pernah benar-benar jadi akhir dari sesuatu? Bahwa ada kebiasaan, kenangan, pesan, yang selalu dibawa satu sama lain hingga ..... entah kapan. Bahwa tidak semua yang kita jalani jadi sepenuhnya sia-sia, saat sebuah masa harus selesai.

Kita hanya menyusun puzzle dengan pecahan-pecahan yang ada. Beberapa mungkin tidak pas satu sama lain. Harus ada bagian yang dipotong atau dihaluskan. Tapi, bagian hidup ini hanya bagian dari yang lain.

Terima kasih, untuk kamu, untuk waktu, untuk ruang.

Sabtu, 27 April 2024

Mad girl.

I don't remember the last time I wasn't mad. Turns out it's true what my friend told me years ago. I am carrying a lot of anger as a sign of protest to life. To a lot of stuff around me. To the inequality that happened for very long time. To stuff that weighing on me and my family for years. To bad people who hurt people I love.

As I grow, I watch how the world works and it sucks. Like how can some people be greedy enough and get whatever they want? How can the others work thrice as much and still being blindsided? Ugh.

Carrying anger all the time is tiring. And yet sometimes I wonder why I am so tired. Like I often forget how mad I am.


But tbh, as a person who likely to be mad and thinks constantly, I look younger than my actual age. HAHAHAHAHA. I guess it runs in the family.

Selasa, 28 November 2023

Hutang Waktu

Kita berhutang waktu satu sama lain, katamu. Aku tertawa. Bagaimana mungkin? Aku sepakat kalau waktu memang mata uang. Kita bisa membeli kehangatan dan keintiman dengan waktu. Namun seberapa besar daya yang kita punya, selamanya hutang waktu itu tak akan bisa dibayar. Tak ada orang yang bisa memutar waktu kembali ke masa lalu, kemudian membayar semua hutang-hutang itu.

Membayar hutang waktu, katamu. Hah! Bagaimana mungkin? Coba jelaskan padaku. Kalau bisa, ayo kita bayar semua hutang-hutang itu. Waktu yang kita janjikan satu sama lain. Tapi tak ditepati.

Ayo kita hentikan waktu. Supaya tak makin bertumpuk. Hutang-hutang tak terbayar di dunia ini.

Kamis, 28 September 2023

Walk the talk

Percayalah sama perilaku orang. Kayaknya itu prinsip yang paling bener buat dipegang saat dewasa. Apalagi makin dewasa, kita ketemu sama banyak banget tipe orang. Ada yang banyak omong, banyak berbuat. Jarang ngomong, banyak berbuat. Banyak ngomong, jarang berbuat. Dan tentunya, ada juga yang jarang dua-duanya. Hehehe.

Makin dewasa, kita harus makin pinter nge-filter pergaulan dan social circle. Apalagi soal pasangan. Setelah kuliah, pertemanan pasti rasanya makin kecil. Kita jadi nyadar mana yang berteman sama kita hanya karena ketemu tiap hari. Tapi jadi nyadar juga mana yang sebenarnya se-visi dan di level yang cocok sama kita. Pas kerja juga akan makin ke-filter. Mana yang bisa dipercaya, mana yang enggak.

Sebagai introvert dengan energi bergaul yang terbatas, cuma orang-orang prioritas lah yang dapat perhatian dari aku tiap hari. Beruntung sih rasanya, masih bisa maintain intimate circle pertemanan dari SMP-kuliah, begitu juga circle-circle yang nggak sengaja kebikin waktu udah dewasa. Bahkan kadang kalau lagi capek banget kerja, aku juga enggak chatty banget ke mereka. Tapi ya mereka paham.

Meskipun gitu, prinsip percaya sama apa yang dilakukan orang tuh paling akurat. Apakah seseorang itu tulus, apakah sesayang itu, apakah sepeduli itu. Semua bisa kelihatan seiring berjalannya waktu. Janji-janji yang diucapkan itu, nggak bisa dipegang walau ditulis pakai materaipun.

Orang yang sayang dan peduli itu bakal kerasa selalu ada. Kita nggak akan merasa sendirian. Walaupun kadang kita ga bisa jabarin betapa lelahnya, tapi somehow, orang yang sayang sama kita itu paham. "Tau kok, kamu lg xxx kan?" padahal akunya nggak ngomong apa-apa loh. Kayak bisa tahu aja dari ekspresi kali ya? Atau mungkin intonasi ngomong, cara ngetik chat. Hahaha.

Sahabat, pasangan, keluarga. Masing-masing pasti punya kesibukan sendiri. Pasti ada harinya mereka juga capek sama sesuatu. Tapi mereka pasti akan pulang ke 'rumah' yang kita bangun bareng-bareng.  Walaupun untuk diem menyendiri dulu. Tapi mereka pasti pulang ke rumah tiap hari!

Kata quote-quote mah orang yang sayang sama lo, nggak akan bikin lo bingung. Kalau lo bingung, berarti dia ga sesayang itu. Menurutku, kita pasti ngerasa kok. Apakah ini orang nyaman sama kita, sayang sama kita, care bener-bener sama kita, percaya sama kita? Semua kelihatan dari perilakunya. Bukan cuma datang pas butuh, terus hilang berbulan-bulan. Namanya hubungan, ya dua arah. Bukan satu arah. Kalau cuma satu arah, namanya monolog. Hahahaha.

Kadang kita emang harus step back a little bit. Just to make sure. Kalau agak jauh, kita bisa melihat dengan angle yang berbeda. Kayak gimana sebenarnya hubungan yang kita punya. Karena, yah, masih ada aja orang yang berimajinasi tentang sebuah hubungan yg dia jalani. Padahal aslinya nggak kayak gitu lho. Tapi dia mereka-reka adegan semau dia sendiri. Bahkan berimajinasi bahwa partnernya tuh sempurna gini gitu, padahal aslinya jauuuh dari itu. Lihat aja tuh seberapa banyak timnya Tom kalau nonton 500 Days of Summer! Hmmmmpft.

Anyway, I am glad I have my own wolfpack. I am lucky to have all those people love me this much <3 I am glad I have him, them, them, and them. It means the world to me.

Kamis, 21 September 2023

Bandara dan Pesawat

Waktu kecil, aku sering lihat keluarga naik pesawat. Zaman 90an sampai 2000an itu bentuk tiket pesawat segepok gitu. Buku kecil, tipis, persegi panjang. Isinya apa aja ya? Entahlah nggak inget. Tapi suka sekali bacanya. Dibolak balik berkali kali. Gemes. Terus mikir, kapan ya aku naik pesawat? Sepertinya seru.

Sering pula berangkat ke Bandara menjemput ibu. Kayaknya salah satu memori yang belum hilang sampai sekarang itu nunggu di pintu kedatangan di Bandara Juanda yang lama. Sekarang sudah jadi T2 sih., bentuknya lebih modern. Dulu pintunya kecil, agak gelap, pinggirannya juga tebal. Nggak kaca transparan dan tanpa pinggiran kayak sekarang. Terus ada jalan miringnya agak tinggi, dan kita nunggu di sisi railing jalan itu. Dindingnya juga polos banget, gaada desain apa-apa. Hahaha.

Pas SD, akhirnya baru keturutan naik pesawat. Trip pertama ke Jakarta. Hahaha. Seseneng itu. Wah begini rasanya, akhirnya enggak penasaran lagi. Setelah itu memang beberapa kali naik pesawat. Ke Bali, Manado, dan tentunya beberapa kali ke Jakarta lagi.

Seseneng itu sampai aku pengen kuliah di Jakarta biar bisa bolak balik naik pesawat. Hahahah. Well thats one, among other reasons, of course. Kayak the best school my parents could afford, lebih kota utk aku yg manja dan butuh hiburan/makanan kota. Meskipun akhirnya ga kuliah di Jakarta seperti yang dikira, karena ternyata UI itu di Depok wakakaka, tapi kalau mau pulang yah tetap naik pesawat.

Jadi kalau bahas pesawat, udah banyak pengalaman yang dijalanin. Aku udah ga keitung berapa kali ketinggalan pesawat. I've stopped counting after it happened thrice. HAHAHAHA. Endingnya beli lagi, atau diganti sm maskapai jg pernah karena macet bgt cooyy akhirnya ditinggal wkwkwkwk. Salah beli tiket krn dua duanya Sby Jkt juga pernah. Akhirnya nyari ruko airlinenya nyari angkot biar bisa reroute wkwk. Ngerasain first class juga pernah, perkara gaada tiket lagi sebelum ngejar pemakaman wkwkwk. Kehilangan temen karena meninggal di kecelakaan pesawatpun ada. Huh.

Pesawat itu somehow therapeutic. Sejenak, lu dikasih kesempatan untuk ganti perspektif. Meski cuma 1-2 jam. Tiba-tiba lu ngeh bahwa dunia itu besar. Semua masalah bisa gue pikirin waktu di pesawat. Di pesawat itu, bisa sibuk sama pikiran sendiri. Nangis diem-diem. Bengong. Nyesel. Excited. Bahagia. Semua emosi pernah dijalanin pas duduk di pesawat.

Di bandara? Not so much. Kebanyakan isinya lari, jalan cepet, efisien naruh semua barang di tas biar nggak harus nyantol lama di metal detector. Kebanyakan nunggu di waiting room juga diisi dengan merhatiin desain bandara itu sendiri. Apalagi di Bandara Soekarno Hatta. Betapa ikoniknya bandara itu karena sering jadi latar film dulu. Cute.

Perjalanan ke bandara juga ngasih mixed feelings. Tergantung apa yang akan dikejar di ujung sana. Dulu zaman kuliah, kalau harus berangkat ke Jkt rasanya mau memaki dunia. Kayak berharap telat aja nih pas sampe. Tapi mana pernah kalau dianterin terus telat gitu :( wakakaka. Ada momen-momen benci banget sama bandara karena harus ninggal rumah. Terus nyesel. Ngapain ya dulu ngejar kuliah di sini? Mana sampai kerja di Jakarta segala. Hahaha.

Rasanya betul kalau bandara jadi tempat paling tulus untuk menyampaikan perasaan. Selain rumah sakit? Hahaha. Perpisahan yang nggak selalu kita tahu, apakah pertemuan yang direncanakan itu bisa terwujud atau nggak. Pelukan-pelukan di bandara. Tepukan di pundak. Cium di kening dan pipi. Semuanya demi meninggalkan kesan terbaik, sebelum menyongsong ketidakpastian di depan.


Minggu, 29 Januari 2023

Bahasa Kehilangan (lanjutan)

Tahun lalu, setidaknya saya melakukan tiga kali death knock. Ini yang saya ingat ya. Apalagi karena tahun 2022 rasanya amat panjang. Hehehe.
Dua di antaranya hanya berselang kurang dari sepekan. Rasanya melelahkan. Kita tidak pernah tahu bahasa kehilangan macam apa yang akan terjadi setelah liang lahat ditutup. Sedangkan, kami tidak mungkin pergi begitu saja. Tugas kami di lapangan yah harus menggali.. Kalau nanti saya salah bicara bagaimana? Kalau ternyata semua penuh tangis, saya mau menulis apa?

Saya ingat betul, dua death knock yang terjadi itu berdekatan dengan kasus tenggelamnya Eril, putra Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Saat itu, ulasan Remotivi tentang death knock yang dilakukan tim Narasi membantu saya menjalani death knock sendirian. Wartawan lain sudah beres tugas usai pemakaman dan konferensi pers. Sedangkan, saya datang sendirian ke rumah istri mendiang.

Saya ingat betul sang istri, yang awalnya tidak berkenan diwawancari siapapun, mau menyambut saya dengan mata sembab. Mempersilahkan saya duduk. Berkenan meninggalkan teman-temannya yang datang untuk bicara dengan saya sebentar. Alasannya simpel, karena cerita yang beredar sudah ke mana-mana.. "Saya dibilang se profesi dengan mas, padahal bukan. Dibilang kami sudah punya anak tapi masih kecil. Ada juga yang bilang malah masih mau tunangan. Saya mau cerita yang sebenarnya ya, mbak, bukan yang didramatisasi," jawabnya.

Ini hampir sejalan dengan ulasan death knock yang dibuat Remotivi. Kalau malas baca sendiri, saya ceritain bagian yang membekas buat saya deh.. Isinya pengalaman salah satu orang yang kehilangan putranya. Hasil liputan meninggalnya sang anak justru disimpan dan dipajang. Hal itu supaya dia tidak perlu mengulang-ulang cerita yang sama pada banyak orang, hal yang membuat dia harus mengenang ketidaknyamanan.

Kadang orang mau didengarkan, kadang juga rasanya ingin mengurung diri untuk mengolah emosi. Ya begitu. Kehilangan memang bikin campur aduk. Nggak ada yang benar-benar 100 persen sedih. Pasti ada rasa-rasa lain. Yang bagi orang-orang yang belum kehilangan, jadi nggak paham-paham amat.

Jumat, 27 Januari 2023

Bahasa Kehilangan

Dari zaman cinta-cintaan ga jelas dulu, saya sadar sih yang saya punya selalu beda dengan punya orang lain. Dulu mengiranya karena personalitynya aja. Belum kenal love language gitu deh. Kenalnya ya sanguinis, melankolis, plegmatis, koleris gitu gitu hahahah. Semakin ke sini ternyata berkembang. Bukan cuma mencintai yang bahasanya berbeda-beda. Kehilangan juga begitu..

Beberapa tahun terakhir jadi lebih banyak melihat kehilangan. Banyak orang di sekitar saya kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka. Akhirnya saya lihat bagaimana bahasanya. Sangat beda-beda. Ini bukan soal detik-detik awal mereka mengalami kehilangannya saja. Iya, ada yang menangis, ada yang diam saja, ada justru tertawa melihat nasib, ada juga yang lega karena almarhum tidak sakit lagi. Tapi secara jangka panjang, apa yang dilakukan juga beda. Tapi semuanya sama, yaitu bahasa kehilangan.

A year later after his wife passed away, he still wears the wedding ring everywhere. At work, at social gathering, at vacation. In that year, he spent a lot of time with people around him. Planning a lot of activities for work, for his community, for holiday with friends. Even decided to go back to school.

Bagi saya, ini bahasa kehilangan yang nyata.

Months after she lost her mom, she spent moreeeee time with her friends. She also does all the shopping and the cooking for their household. Saying stuff like if I buy this onion in traditional market, it would be way cheaper, my mom would be proud.

Bagi saya, ini bahasa kehilangan yang nyata.

Years later after he lost his mom, he has made a lot of decisions by himself. He know he lost his safety net. So everything requires a lot of consideration. He realized his decisions will affect somebody else now, his family.

Bagi saya, ini bahasa kehilangan yang nyata.

Satu orang yang pergi, tidak kemudian menimbulkan bahasa kehilangan yang sama bagi tiap orang di dekatnya. Beberapa marah dengan keadaan, beberapa menerima dan memilih untuk merindukan, beberapa menolak mati-matian dan menutupnya dengan kepura-puraan. Apakah itu salah? Tidak. Semua bahasa kehilangan itu wajar. Tapi mana yang terbaik? Saya tidak berhak memutuskan. Barangkali kita hanya perlu terbuka satu sama lain tentang rasa kehilangan yang sama. Jadi kita bisa meracau bersama, daripada merasakan kehilangan dalam sepi.

Jumat, 24 Juni 2022

Hai!

Wah berdebu banget yah, saking lamanya nggak nulis di sini. Hahaha *bersih-bersih

Setelah kuliah dan mulai kerja, kayanya energi keserap ke sana. Nulis di blog jadi semakin jarang. Apalagi sekarang nulis juga tiap hari, makin nggak ada energi lah untuk ngetik di luar kerjaan. Padahal nulis di luar kerjaan itu penting untung menjaga kewarasan hahaha.

Pernah suatu ketika diingetin iseng-iseng (yakin sih iseng banget ni orang, cuma nyeletuk doang), dia bilang "jangan lupa nulis selain kerjaan ya!". Tapi hasilnya emang menohok banget asli. Wakakak. Karena banyak hal yang ingin aku tuliskan di luar kerjaan. Ide-ide absurd, kritikan yang nggak smart-smart amat, atau sekadar racauan untuk journaling. Tapi semua nggak benar-benar ditumpahkan, akhirnya terlupakan. Maaf ya my time machine, aku nggak memanfaatkan kamu sebagaimana mestinya :(.

Seenggaknya menyapa dulu di sini, mungkin nanti-nanti bisa nulis lagi keluhan aneh-aneh. Misalnya.......why passion is overrated LOOOOOL. Atau kenapa kondisi kita ga berubah-berubah amat, bahkan saat baca tetralogi buru, banyak kata-kata yg masih bisa dirasain saat ini. Haha.

Anyway, sebagai catatan penting, sejak akhir 2019 hingga tulisan ini dibuat, kita semua lagi melewati pandemi Covid-19. Banyak hal terjadi, banyak hal berubah, banyak nyawa yang diambil Tuhan. Banyak, banyak, banyak. Meskipun, saat ini sudah banyak yang kembali seperti dulu, kondisi belum benar-benar baik. Aku rasa semua makin waswas karena tahu kondisi memang mudah berubah. Ga ada lagi tuh yang bisa disebut taken for granted. Karena dalam satu detik, semua bisa *poof* menghilang. Bisa saudara, orang tua, anak, pekerjaan, uang, kewarasan diri sendiri. Literally, everything. So, yeah, I get it when people tend to be more anxious these days. It is hard to think that we will always get the good one. But, it is okay. Try to enjoy the moment while it last, afterall everything is temporary, right?

Rabu, 26 April 2017

What came after 13 Reasons Why?

Higher level of depression.

JK. Hahaha

A week before I watched 13 Reasons Why, I just finished Bones Season 12. Last season of Bones after years I watched it since high school. I equally spent my time on both series. But, watching 13 Reasons Why felt really slow. "damn dude, just finish the tape, Clay!" Hahaha.

I was excited when some friends talked about it on their home line post. "A series about suicide? Definitely gonna watch it." I expected it as a good series. And it actually is. It basically talk about everything around us that we choose to overlook everyday. Bullying, rape, consent.

Some people really need to learn about consent. If you think consent is about sex only, you got it totally wrong. Everything needs your consent. You want it, you don't want it. It can be disaster if you do something (that you think it will be good) for someone without their consent. You can see it when Ryan published Hannah's poem, even when Hannah rejected it. He thought it was a good that people read Hannah's poem because it is a good poem. Other than appreciate it, instead people talked about it as an erotic thing. And it made Hannah more stressed out. It can be happening anytime anywhere to anyone. You and me. We think we do good for people, but it actually violate their privacy. We do it without their consent, or even they actually say that they don't want it. We do harm, instead.

It says more about bullying. "you should be proud, Hannah. You made it to the hot list" shit people say. It is a catcall. Catcall is sexual harassment. You should stop saying it is a compliment. Rape is not compliment. Sexual assault never be a compliment, as seen as because you're hot, you're beautiful, you're cute etc.

It says more about what we do always affect something else, someone else. Seriously, I like this series because finally people look at suicide as result of people who do bad things. Not just a person who give up. Some of us often judge people who choose to kill themselves. But we never really look beyond it. What actually happen? Why they choose it? Is there anyone who help them through bad things? Can we help? Did I do bad things to them? Did I also part of the reason they did it? Did I kill them? No, most people don't ask these questions. Do you know what comes after suicide? More bullying. "Lemah sih" "Gitu aja bunuh diri" "Yaudah sana mati aja" and so on. But, it is important thing to remember that after all, it still their decision to kill themselves. We can feel guilty because we do bad things to them, but it should be a reminder to do good for other people.

After all, suicide never solve problems. It passes the sadness from one to another. From the person who kill themselves to their family and loved ones. It just hurt more people. And what can we do? Help others.

Jumat, 04 November 2016

Nov 4th 2016, in Jakarta.

My parents worried all over the place about today. My workplace is not that near from the crowded took place. I have a thing today, a good thing to do. I am excited about it, but they told me to not go. Just go home after work, don't go anywhere else.

My aunt told her women employee to wear pants today, so they can run whatever happens. She also wear pants and sport shoes. I was not afraid the way they are. I didn't think it will be really scary out there.

Last night, I still wanted to go. I prepared what I have to bring. I was excited. I thought they just worried too much.

But with everything all over my social media, I think they are reasonable, because they know how 1998 happened. I don't remember and I didn't see it by myself. I just remember my mother complained about how expensive things were.

You can see everyone stood up for the way they think. I went to good school, the best I could get and my parents could pay. I am surrounded by smart people. Mostly, they can speak beautifully. They used their knowledge to support what way they choose. This is why I thought I will be fine. "It will be just one good day." But, some people showed me how violent out there. People trash-talked. Spread the hatred. I cringed.

God is perfect, human is the one who need God's protection.

After all, we believe what we want to believe. We see what we want to see. We hear what we want to hear.

Kamis, 23 April 2015

I just saw a star. I just did.

Aku melihat satu bintang bersinar dengan percaya diri malam ini. Dia sendirian, dengan jarak agak jauh, menemani sang bulan sabit.

Tiba-tiba diriku terlempar ke masa lalu. Masa-masa di mana aku suka sekali menikmati taburan bintang tengah malam di tengah hutan. Aku merindukan masa-masa aku menghabiskan waktu keluar dari rutinitas dan polusi perkotaan. Suara kendaraan berganti dengan suara jangkrik. Cahaya lampu buatan manusia diganti dengan cahaya bulan yang sangat terang ditemani dengan banyak bintang kecil di sekitarnya.

Aku terjebak pada realitas menjadi dewasa dan tuntutan sosial yang melekat padanya. Aku terjebak bahwa aku tidak bisa pergi ke sana ke mari dengan sesuka hati lagi. Karena menjadi dewasa berarti belajar sadar, memahami, dan menahan diri dari hal-hal yang tidak mengantarkan kita ke manapun. Aku terjebak dengan tuntutan dan urutan prioritas yang diikatkan orang lain. Mungkin bukan hanya aku, tetapi kita semua lupa bahwa kita unik. Kita punya cara sendiri untuk menjadi dewasa dan menjalani kedewasaan. Kita terjebak pada tuntutan sosial, bahwa kita harus kuliah formal di Universitas yang dibiayai negara, lalu harus mencetak huruf dan angka yang menyenangkan dan nyaris sempurna, lalu melanjutkan pekerjaan di tempat bergengsi dengan gaji tinggi. Dan apapun yang kita lakukan hari ini harus mengantarkan kita ke sana. Harus. Tuntutan bukan lagi mengenai hal-hal besar, tetapi juga menekan pilihan-pilihan kecil yang kita buat. Pertanyaannya selalu sama, apakah hal ini akan membantumu mendapatkan nilai yang baik di bangku kuliah dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji terbesar bagimu nanti?

Mungkin hanya dengan melihat ke langit di malam-malam yang biasa ini, kita mulai sadar bahwa kita punya banyak sekali pilihan untuk jadi diri sendiri. Untuk tetap menampakkan diri apa adanya, meskipun sendiri.

Kamis, 02 April 2015

mengapa kita dicintai atau diharapkan?

Berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun?, aku bertanya kenapa ada saja orang yang menyayangiku? Bertanya mengapa beberapa orang bisa sebegitu berharapnya aku menempati posisi tertentu. Percaya, katanya. Apa yang dipercayai? Aku saja ragu. Aku saja tidak tahu bagaimana masa depan, apa yang akan terjadi, apa yang akan menghalangiku nanti. Paling penting, apakah aku bisa mengatasinya seperti orang-orang terdahulu mengatasinya.

Tidak sebentar aku bertanya-tanya, menanyakan hal yang sama pada orang-orang. Mengapa orang yang punya banyak sekali kekurangan bisa menjadi seseorang yang disayangi, dijaga, dipercaya, bahkan diharapkan?

Beberapa keputusan sulit harus dibuat. Keputusan-keputusan besar yang mungkin belum disadari akan memberikan perubahan besar dalam hidup. Keputusan besar..beserta konsekuensinya yang juga besar.

but, you know what? I dont care. I wont let them screw me up for a long time. Aku menyadari hal baru bahwa aku suka menyiksa diriku karena dengan begitu aku belajar hal baru. Akan selalu ada keputusan-keputusan besar yang diambil, yang akan menyiksaku di tengah jalan dan harus dipertanggungjawabkan.

Mengapa kita dicintai atau diharapkan? Kita akan menemukan jawabannya di jalan ketika kita mencoba. Tidak ada yang tahu jika tidak dicoba.

Jumat, 20 Maret 2015

lagi-lagi, tentang gesekan dan perbedaan pendapat

kampus UI sedang panas-panasnya dengan isu bahwa mahasiswa dan ILUNI UI akan bersama-sama menggunakan jaket kuning dan menyampaikan beberapa tuntutan hari ini, 20 Maret 2015. dimulai dengan forum-forum yang dilakukan oleh lembaga eksekutif mahasiswa hingga maraknya tweet-status fb-jarkom tentang mati surinya pergerakan mahasiswa yang menaikan isu dengan cukup cepat, di lingkungan saya. hal ini dimulai dengan isu KPK-Polri yang masih meresahkan masyarakat dan pendapat bahwa mahasiswa seharusnya melakukan sesuatu.

lebih banyak cerita terkait jarkom-jarkom yang beredar bisa dilihat di ridhaintifadha.tumblr.com

meskipun dianggap agak lambat menentukan sikap dibanding beberapa lembaga lain, pada akhirnya sikap yang diambil oleh BEM FISIP UI 2015 dapat diakses di link berikut bit.ly/20Maret2015. di dalamnya juga tercantum kronologi pembahasan isu yang lebih lengkap.

tetapi di atas itu semua, lagi-lagi, mungkin kita sering kali congkak dengan pendapat sendiri. saya hanya berusaha menghargai keilmuan yang menjadi nafas mahasiswa dan pergerakan kampus. jangan sampai, kita sendiri, melebarkan batas antara keilmiahan mahasiswa dengan pergerakan kampus.

pendapat-pendapat bahwa mahasiswa harus turun aksi dan mengutamakan hati nurani karena masyarakat Indonesia sedang tertindas dan bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja juga benar, dan saya sepakat dengan hal itu. tetapi, jangan sampai diksi "turun aksi" dipersempit dengan makna hanya turun ke jalan dengan jaket kuning kebanggaan dilengkapi beberapa spanduk berisi tuntutan mahasiswa. turun aksi harus ada sebagai tombak pergerakan mahasiswa, tetapi dengan bentuk apa saja yang konkrit dan punya kontribusi yang terasa.

tolong, ketika kita semua punya jalan yang berbeda untuk turun aksi, bukan memicingkan mata satu sama lain yang dilakukan. tetapi kolaborasi dan rasa saling menghargai yang harus diutamakan. sudah seharusnya dipahami bahwa apa yang kita lakukan ini dengan dasar alasan yang sama, untuk kebaikan rakyat Indonesia. kita hanya punya banyak cara, karena memang banyak masalah yang ada di lingkungan sekitar kita, dan tidak bisa diselesaikan dengan satu cara yang sama. maka, mari saling menghargai pendapat, saling menghargai cara mencapai tujuan yang sama ini, saling menghargai keilmuan yang kita punya sebagai dasar pergerakan ini. jangan sampai kita melecehkan pilihan cara aksi yang berbeda, bahkan hingga melecehkan keilmuan yang sudah dipelajari dengan sungguh-sungguh.

perlu saya tekankan bahwa saya bicara dengan kapasitas personal yang masih sangat terbatas, bukan sebagai salah satu anggota organisasi tertentu. saya menulis sebagai bentuk kegelisahan dan ketergelitikan atas sentimen yang terjadi beberapa hari ini diantara sesama mahasiswa yang berusaha menyelesaikan masalah di masyarakat Indonesia ini.

Jumat, 27 Februari 2015

tentang kesalahan

pada akhirnya saya belajar mengenai kesalahan, kemudian membaginya menjadi dua jenis kesalahan dalam hidup. saya membaginya menjadi dua jenis, kesalahan umum dan kesalahan yang belum tentu.

kesalahan umum adalah kesalahan yang sudah sering dilakukan orang. kita tidak perlu melakukannya sendiri hanya untuk tahu kalau itu sebuah kesalahan. contohnya banyak, bolos misalnya. kita tahu kita akan rugi dengan meninggalkan kelas. kita tahu ketika ketinggalan materi adalah konsekuensi kesalahan membolos. kita tahu, tanpa harus melakukan.

kesalahan yang belum tentu adalah kesalahan yang harus dilakukan sendiri, hingga kita menyadari bahwa kesalahan itu adalah sebuah kesalahan. kita melakukan tanpa intensi melakukan kesalahan. kita hanya melakukannya. kitapun tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya, apakah ini akan mengantarkan kita pada hal yang menyenangkan atau menyedihkan. kita bertaruh padanya. dan kita akan belajar padanya. kesalahan inilah yang mengantarkan kita ke arah yang lebih dewasa. kesalahan ini mungkin kita sesali di awalnya, tetapi tanpa kesalahan ini, kita justru tidak berkembang, tidak belajar, tidak berubah, tidak berusaha memperbaiki diri. kesalahan inilah yang mengajarkan kita tersenyum di akhir cerita karena ia mengantarkan kita ke jalan yang (kita kira?) benar.

dan kamu, adalah kesalahan yang saya syukuri hingga hari ini.

Senin, 10 November 2014

ambisius

akhirnya aku paham mengapa ambisius jadi punya makna negatif.. ambisius membuat kita menatap hanya pada satu titik di depan, yang mungkin terletak jauh di depan kita. ambisius membuat kita melupakan titik-titik lain yang juga membentuk benda di sekitar kita. kita lupa untuk hidup sekarang, di saat ini, menikmati rasanya mencapai sebuah titik dan menghargai diri sendiri untuk sudah berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya. yang kita tahu, kita masih jauh dari titik utama yang kita inginkan, lupa bahwa titik yang kita tempati sekarang mungkin titik jauh yang dulu kita idam-idamkan. lupa bahwa kita pernah begitu menginginkan titik yang kita tempati sekarang seperti sekarang kita menginginkan titik yang jauh di ujung sana.

mungkin memang perlu untuk berhenti sejenak, menghela nafas dan melihat ke belakang untuk tahu betapa jauhnya sudah melangkah. memberikan badan dan pikiran sejenak istirahat sebagai penghargaan karena sudah bekerja begitu keras selama ini.

apa aku terlalu ambisius? mungkin hanya lupa untuk berbahagia.

Rabu, 10 September 2014

aku paham bahwa tidak banyak yang...

aku sudah memahami bahwa tidak banyak orang yang mau berkorban untuk orang lain. tidak banyak yang punya kebiasaan untuk berpikir lebih luas dibanding yang lain.

wajar.

tidak banyak yang terbiasa untuk hidup bagi dirinya dan lingkungannya. beberapa orang memilih berdiam diri karena merasa bahwa yang lain sudah cukup mengerjakan segala pekerjaan di lingkungannya. beberapa orang memilih berjalan sendiri, berharap suatu hari akan menemukan orang yang tepat untuk menemani.

aku memahami bahwa menolong orang itu passion. aku mengerti bahwa berkorban dan memikirkan orang lain yang kesusahan itu passion. tidak semua orang suka melakukannya, tidak semua orang dengan suka hati melakukannya. maka dari itu, tidak banyak yang memilih bersusah payah seperti ini.

sindrom-sindrom orang yang mengaku dirinya aktivis, suka ngatain orang lain apatis.

kontribusi tidak bisa dibatasi hanya dalam dimensi organisasi kemahasiswaan. kontribusi bisa jadi bentuk apa saja. belajar dengan baik itu kontribusi. taat aturan itu kontribusi. jangan merasa berkorban paling banyak, kalau yang berusaha "ditolong" tidak pernah merasa dia bermasalah. jangan-jangan kita ini yang cuma membuat-buat masalah? macam iklan-iklan untuk mempromosikan produk, yang sebenarnya kita akan sehat-sehat saja tanpanya.

tidak banyak yang berkorban, mungkin karena tidak paham masalahnya apa. mungkin merasa bahwa dunia sudah baik-baik saja. atau, mungkin bukan dengan cara yang kita promosikan ini, mereka berpikir masalah akan selesai.

bisa saja, kita ini semua egois. beberapa egois untuk berdiam diri. beberapa egois untuk berjalan sendiri. dan beberapa egois untuk berjalan dengan yang lain. karena kita kira, dengan begini kita bisa bahagia.

Rabu, 03 September 2014

belajar

katanya, sepanjang hayat kita akan terus belajar hal baru. kalau sudah berhenti belajar, berarti sudah mati meskipun masih bisa bernafas. pada awalnya, aku tak pernah paham mengapa harus begitu. tidak paham apa lagi yang harus dipelajari ketika sudah lulus sekolah.

memang tidak banyak orang yang mampu terus menerus belajar. ada yang terus melakukan pola yang sama, tidak berubah, karena sudah yakin setengah mati bahwa itu cara hidup yang benar. ada yang berhenti belajar karena merasa dirinya sudah berumur dan sudah cukup pandai. ada pula sebagian orang yang masih terus terkejut setiap harinya, terkagum-kagum karena menemukan hal baru di dunia, meskipun sudah beruban.

akan selalu ada cara belajar bagi yang ingin. tidak dibatasi oleh keterbatasan. buta, tuli, bisu, lumpuh secara fisik mungkin hanya sebagian rintangan bagi seseorang yang masih punya semangat belajar.

bukan orang lain yang membatasi kita. hanya kita yang membiarkan badan melemah dan memberi ruang orang lain membatasi kita. bukan orang lain yang menjatuhkan kita, hanya kita yang membebaskan mereka berbuat buruk pada kita.

it always depends on yourself. karena Tuhan tidak mengubah nasib sebuah kaum tanpa mereka mengusahakan.

Kamis, 26 Juni 2014

unek-unek

toleransi.
satu hal yang perlu kita tanyakan ke diri masing-masing, apakah sudah punya?

mungkin bisa kita katakan ia dengan sebutan menghargai perbedaan. mungkin bisa kita katakan dengan tidak mempertentangkan segala hal yang berbeda, melabelinya dengan ini benar dan itu salah. oke oke, mungkin kita memang perlu ada label salah dan benar, seperti membantu orang merasa lebih baik dan bahagia adalah hal yang benar, sedangkan melukai seseorang baik fisik dan perasaan adalah hal yang salah. hal yang menguntungkan itu benar dan merugikan itu salah, tinggal letaknya di kepentingan pribadi, golongan, atau bersama? nah lho.

ngomong soal toleransi mungkin ga ada habisnya, apalagi di tempat yang namanya Indonesia macam gini. sukunya banyak, orangnya banyak jadinya pendapatnya juga banyak. budayanya apalagi, melimpah-limpah. tapi toleransi di Indonesia?

mungkin ini bisa terlihat dari bagaimana kita merespon soal pilihan pilpres nanti. semua orang seakan-akan berani mati untuk pilihannya. marah-marah saat orang menyemburkan kejelekan pahlawannya. black campaign, katanya. marah-marah saat orang menyemburkan kebaikan lawannya. pencitraan, katanya. belum lagi dukungan media sosial yang sudah jadi kebiasaan sejak internet merajalela di kehidupan sehari-hari kita. semua hal jadi tumplek blek di media sosial. iya sih, freedom of speech, tapi sudah siap bertanggungjawab belum?

balik lagi soal toleransi, sudah siap kah kita menerima perbedaan? menghargainya. bukan berusaha mati-matian membunuhnya. kita terlalu banyak menelan bahwa persamaan, standarisasi dalam segala aspek adalah hal yang benar. akhirnya jadi memaksa semua harus sama, semua harus satu pilihan. pilihan yang lain adalah salah. kepercayaan lain adalah salah. pendapat tentang melihat sesuatu hal lain adalah salah, padahal kita cuma lihat dari sudut pandang yang beda.

maksudku, kenapa sih kita harus jotos-jotosan kayak gini? bener ga sih jotos-jotosan kita ini sekarang menguntungkan? untuk siapa? untuk berapa lama? bisa gak kita jotos-jotosannya lewat ide? ga usah beneran sampai babak belur gini. jotos-jotosannya masih sambil minum kopi, santai-santai. kalau bercanda ya ketawa bareng. segitunya anti perbedaan? sekali beda pendapat, "ga usah ngomong lagi lah" gitu?

Senin, 09 Juni 2014

you told me that past was so much better.

you were wrong.
everything is changing every second. if it is the past which is better, then why does it become 'past' not 'present'?

i don't know why you look like hate the present. i don't know why you close your eyes and imagine the day you spent with your past, still. and i can't understand why you don't look forward. are you waiting something punch you in the face so you will open your eyes and see there is a tree in front of you? no, i don't know that i still can laugh.

all we have to do is letting it happen. new books become old books. new phone becomes stupid phone. young becomes 40s. you can't ask God to stop the time just because you like your past more than your present. there is always reason why God take it from us....because we changed and it didnt fit us anymore. because God give us better things. because God know we can let it go and be strong to accept it.

you know, the thing that happened to us are not important. guess what is more important that that? the way we see it and react to it.

i am not saying it because saying it is easy. no. because i know you listen to me. after all this time, you still.