Tampilkan postingan dengan label bad rainy day. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bad rainy day. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2024

Mad girl.

I don't remember the last time I wasn't mad. Turns out it's true what my friend told me years ago. I am carrying a lot of anger as a sign of protest to life. To a lot of stuff around me. To the inequality that happened for very long time. To stuff that weighing on me and my family for years. To bad people who hurt people I love.

As I grow, I watch how the world works and it sucks. Like how can some people be greedy enough and get whatever they want? How can the others work thrice as much and still being blindsided? Ugh.

Carrying anger all the time is tiring. And yet sometimes I wonder why I am so tired. Like I often forget how mad I am.


But tbh, as a person who likely to be mad and thinks constantly, I look younger than my actual age. HAHAHAHAHA. I guess it runs in the family.

Jumat, 27 Januari 2023

Bahasa Kehilangan

Dari zaman cinta-cintaan ga jelas dulu, saya sadar sih yang saya punya selalu beda dengan punya orang lain. Dulu mengiranya karena personalitynya aja. Belum kenal love language gitu deh. Kenalnya ya sanguinis, melankolis, plegmatis, koleris gitu gitu hahahah. Semakin ke sini ternyata berkembang. Bukan cuma mencintai yang bahasanya berbeda-beda. Kehilangan juga begitu..

Beberapa tahun terakhir jadi lebih banyak melihat kehilangan. Banyak orang di sekitar saya kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka. Akhirnya saya lihat bagaimana bahasanya. Sangat beda-beda. Ini bukan soal detik-detik awal mereka mengalami kehilangannya saja. Iya, ada yang menangis, ada yang diam saja, ada justru tertawa melihat nasib, ada juga yang lega karena almarhum tidak sakit lagi. Tapi secara jangka panjang, apa yang dilakukan juga beda. Tapi semuanya sama, yaitu bahasa kehilangan.

A year later after his wife passed away, he still wears the wedding ring everywhere. At work, at social gathering, at vacation. In that year, he spent a lot of time with people around him. Planning a lot of activities for work, for his community, for holiday with friends. Even decided to go back to school.

Bagi saya, ini bahasa kehilangan yang nyata.

Months after she lost her mom, she spent moreeeee time with her friends. She also does all the shopping and the cooking for their household. Saying stuff like if I buy this onion in traditional market, it would be way cheaper, my mom would be proud.

Bagi saya, ini bahasa kehilangan yang nyata.

Years later after he lost his mom, he has made a lot of decisions by himself. He know he lost his safety net. So everything requires a lot of consideration. He realized his decisions will affect somebody else now, his family.

Bagi saya, ini bahasa kehilangan yang nyata.

Satu orang yang pergi, tidak kemudian menimbulkan bahasa kehilangan yang sama bagi tiap orang di dekatnya. Beberapa marah dengan keadaan, beberapa menerima dan memilih untuk merindukan, beberapa menolak mati-matian dan menutupnya dengan kepura-puraan. Apakah itu salah? Tidak. Semua bahasa kehilangan itu wajar. Tapi mana yang terbaik? Saya tidak berhak memutuskan. Barangkali kita hanya perlu terbuka satu sama lain tentang rasa kehilangan yang sama. Jadi kita bisa meracau bersama, daripada merasakan kehilangan dalam sepi.

Jumat, 04 November 2016

Nov 4th 2016, in Jakarta.

My parents worried all over the place about today. My workplace is not that near from the crowded took place. I have a thing today, a good thing to do. I am excited about it, but they told me to not go. Just go home after work, don't go anywhere else.

My aunt told her women employee to wear pants today, so they can run whatever happens. She also wear pants and sport shoes. I was not afraid the way they are. I didn't think it will be really scary out there.

Last night, I still wanted to go. I prepared what I have to bring. I was excited. I thought they just worried too much.

But with everything all over my social media, I think they are reasonable, because they know how 1998 happened. I don't remember and I didn't see it by myself. I just remember my mother complained about how expensive things were.

You can see everyone stood up for the way they think. I went to good school, the best I could get and my parents could pay. I am surrounded by smart people. Mostly, they can speak beautifully. They used their knowledge to support what way they choose. This is why I thought I will be fine. "It will be just one good day." But, some people showed me how violent out there. People trash-talked. Spread the hatred. I cringed.

God is perfect, human is the one who need God's protection.

After all, we believe what we want to believe. We see what we want to see. We hear what we want to hear.

Jumat, 17 Oktober 2014

emo/ra-sional

kita hanya manusia yang lahir dengan segala naluri alamiah, yang kemudian ditumbuhkan dan didewasakan dengan dirasionalkan akalnya oleh manusia yang lain. katanya, yang membedakan manusia dengan hewan kan akalnya, jadi yaa...jangan lah hanya berdasar pada naluri alamiah, seperti yang dipunyai hewan.

begitu.

jadi yang berdasarkan pada emosional, naluri, "perasaan gue ga enak", "firasat gue sih la la la", itu seperti hewan yang cuma pakai insting untuk diam di tempat menunggu maksa, atau pergi karena akan ada badai datang.

aku inget di awal tahun ini, ketika harus memilih beberapa hal, seseorang mengatakan, "coba pakai hatimu, karena ga bisa dipungkiri, meskipun kita udah mikir secara rasional, beberapa hal akan tetap terasa benar atau salah di dalam hati"

mungkin iya benar begitu, hati selalu digambarkan sebagai sesuatu yang emosional dan tak berdasar.


memang begitu ya hati seharusnya, Tuhan?

Rabu, 10 September 2014

aku paham bahwa tidak banyak yang...

aku sudah memahami bahwa tidak banyak orang yang mau berkorban untuk orang lain. tidak banyak yang punya kebiasaan untuk berpikir lebih luas dibanding yang lain.

wajar.

tidak banyak yang terbiasa untuk hidup bagi dirinya dan lingkungannya. beberapa orang memilih berdiam diri karena merasa bahwa yang lain sudah cukup mengerjakan segala pekerjaan di lingkungannya. beberapa orang memilih berjalan sendiri, berharap suatu hari akan menemukan orang yang tepat untuk menemani.

aku memahami bahwa menolong orang itu passion. aku mengerti bahwa berkorban dan memikirkan orang lain yang kesusahan itu passion. tidak semua orang suka melakukannya, tidak semua orang dengan suka hati melakukannya. maka dari itu, tidak banyak yang memilih bersusah payah seperti ini.

sindrom-sindrom orang yang mengaku dirinya aktivis, suka ngatain orang lain apatis.

kontribusi tidak bisa dibatasi hanya dalam dimensi organisasi kemahasiswaan. kontribusi bisa jadi bentuk apa saja. belajar dengan baik itu kontribusi. taat aturan itu kontribusi. jangan merasa berkorban paling banyak, kalau yang berusaha "ditolong" tidak pernah merasa dia bermasalah. jangan-jangan kita ini yang cuma membuat-buat masalah? macam iklan-iklan untuk mempromosikan produk, yang sebenarnya kita akan sehat-sehat saja tanpanya.

tidak banyak yang berkorban, mungkin karena tidak paham masalahnya apa. mungkin merasa bahwa dunia sudah baik-baik saja. atau, mungkin bukan dengan cara yang kita promosikan ini, mereka berpikir masalah akan selesai.

bisa saja, kita ini semua egois. beberapa egois untuk berdiam diri. beberapa egois untuk berjalan sendiri. dan beberapa egois untuk berjalan dengan yang lain. karena kita kira, dengan begini kita bisa bahagia.

Kamis, 26 Juni 2014

unek-unek

toleransi.
satu hal yang perlu kita tanyakan ke diri masing-masing, apakah sudah punya?

mungkin bisa kita katakan ia dengan sebutan menghargai perbedaan. mungkin bisa kita katakan dengan tidak mempertentangkan segala hal yang berbeda, melabelinya dengan ini benar dan itu salah. oke oke, mungkin kita memang perlu ada label salah dan benar, seperti membantu orang merasa lebih baik dan bahagia adalah hal yang benar, sedangkan melukai seseorang baik fisik dan perasaan adalah hal yang salah. hal yang menguntungkan itu benar dan merugikan itu salah, tinggal letaknya di kepentingan pribadi, golongan, atau bersama? nah lho.

ngomong soal toleransi mungkin ga ada habisnya, apalagi di tempat yang namanya Indonesia macam gini. sukunya banyak, orangnya banyak jadinya pendapatnya juga banyak. budayanya apalagi, melimpah-limpah. tapi toleransi di Indonesia?

mungkin ini bisa terlihat dari bagaimana kita merespon soal pilihan pilpres nanti. semua orang seakan-akan berani mati untuk pilihannya. marah-marah saat orang menyemburkan kejelekan pahlawannya. black campaign, katanya. marah-marah saat orang menyemburkan kebaikan lawannya. pencitraan, katanya. belum lagi dukungan media sosial yang sudah jadi kebiasaan sejak internet merajalela di kehidupan sehari-hari kita. semua hal jadi tumplek blek di media sosial. iya sih, freedom of speech, tapi sudah siap bertanggungjawab belum?

balik lagi soal toleransi, sudah siap kah kita menerima perbedaan? menghargainya. bukan berusaha mati-matian membunuhnya. kita terlalu banyak menelan bahwa persamaan, standarisasi dalam segala aspek adalah hal yang benar. akhirnya jadi memaksa semua harus sama, semua harus satu pilihan. pilihan yang lain adalah salah. kepercayaan lain adalah salah. pendapat tentang melihat sesuatu hal lain adalah salah, padahal kita cuma lihat dari sudut pandang yang beda.

maksudku, kenapa sih kita harus jotos-jotosan kayak gini? bener ga sih jotos-jotosan kita ini sekarang menguntungkan? untuk siapa? untuk berapa lama? bisa gak kita jotos-jotosannya lewat ide? ga usah beneran sampai babak belur gini. jotos-jotosannya masih sambil minum kopi, santai-santai. kalau bercanda ya ketawa bareng. segitunya anti perbedaan? sekali beda pendapat, "ga usah ngomong lagi lah" gitu?

Minggu, 10 November 2013

kecewa, terus apa?

kecewa, hal biasa yang terjadi ketika harapan (bahasa syusyahnya, ekspektasi) kita tidak terpenuhi. jadi awalnya, biasanya kita mencanangkan semacam standar terhadap sesuatu.

ketika melangkahkan kaki, memantapkan mau memilih jalur apa, akan muncul semacam harapan-harapan semu. kalau gue milih ini, nanti (mungkin) bakal dapet ini. we always do. kita, secara sukarela, memilihkan standar dan melekatkannya pada setiap hal di sekeliling kita. begitupun ketika memilih untuk bergabung dengan sebuah tim, yang nantinya akan melakukan pekerjaan bareng.

banyak orang bilang tentang jangan memperbesar ekspektasi, tapi perbesar usaha yang bisa dilakukan. gak salah kok ketika kita punya standar tinggi atas pekerjaan atau amanah. i think everyone should have it, sebagai tujuan untuk diusahakan, bukan hanya untuk diletakkan dan dipandangi (?). tapi mau menangin ego yang tidak terpuaskan atau melanjutkan apa yang udah terlanjur ditaruh di tangan itu pilihan kita lho. mau ikutan menyebarkan kekecewaan kepada yang lain atau mau membalas kekecewaan itu, adalah pertanyaan mendasar yang harus ditanyakan ke diri sendiri ketika ketampar kekecewaan. simpelnya, mau cabut karena kecewa dan membiarkan pekerjaan kita atau mau lanjut jalan, supaya ga memperbanyak orang yang kecewa?

jadi, mau mengisi kekecewaan hati itu dengan apa, sebenarnya bukan tanggungjawab siapa-siapa selain diri sendiri. buat gue, apa yang ada di hati tuh bukan urusan siapa-siapa yang ada di luar, lo seneng atau sedih bukan karena orang lain yang seenaknya, tapi karena lo mengijinkan apa yang mereka lakuin berefek lebih besar daripada pikiran lo sendiri.

Sabtu, 21 September 2013

pemuja kesamaan

baru saja menyadari bahwa kita semua ini pemuja kesamaan. katanya sih, setiap orang memang dilahirkan berbeda. katanya, kita tidak bisa mengubah itu karena perbedaan adalah hal mutlak abadi.

mari kita lihat betapa intolerannya kita terhadap perbedaan. kita hanya mau bekerja dengan orang-orang yang sepikiran. kita hanya mau bicara pada orang yang sependapat. kita hanya mau menikah dengan orang yang sesuku. tidak ada yang salah dengan kesamaan, karena memang kesamaan menimbulkan kenyamanan. tetapi tidak dengan mencoba menyingkirkan perbedaan, menghilangkannya hingga tenggelam ke dalam tanah dan tidak muncul lagi. betapa jahatnya kita, memuja kesamaan, karena kesamaan menciptakan kenyamanan, kita merasa begitu aman dengannya, lalu berusaha mati-matian menyingkirkan perbedaan karena menganggapnya sebagai musuh.

ternyata, apa yang aku dapat di rumah lamaku dulu adalah, aku dan banyak orang lain, menjadi pemuja kesamaan. berhenti berkontribusi karena semua orang tidak seperti kami. tidak mau berkolaborasi karena apa yang berbeda itu salah.

jadilah lentur.

Rabu, 18 September 2013

Eh?

"When things break, it's not the actual breaking that prevents them from getting back together again. it's because a little piece get lost - the two remaining ends couldn't fit together even if they wanted to. the whole shape has changed." --Will Grayson Will Grayson, John Green

"Timing is everything, even in love. And when you are not ready to commit, you could end up regretting it. Sometimes, timing rather than love decides who we end up being with - or without. Only some lucky people marry the loves of their lives. The rest marry the most suitable person who comes along when they are ready to settle down. Even if the love of one's life appears when one is single, one may not be in the right frame of mind to recognise him or her as such. And then love passes by. Life is littered with near misses and lost opportunities."

reblog: kuntawiaji tumblr

what do you think, uh? kalau kamu mikir aku lagi jatuh cinta, hmm enggak juga sih. dibilang lagi patah hati....enggak juga sih.

apakah ada rasa trauma? ya, aku merasakan itu. kalau mungkin banyak yang merasa aku lagi patah hati atau semacamnya karena suka bilang 'kalau jodoh pasti ketemu, kalau ga ketemu ya ga jodoh', itu bukan semacam rasa patah hati yang ngarep2 orang yang disukain, nyukain balik, bukan juga rasa pesimistis untuk hubungan yang sudah terjalin. aku hanya merasa jadi lebih realistis, itu aja. because i knew it, berember-ember air mata yang tumpah karena hubungan yang menahun dan mimpi-mimpi yang ikutan dibangun diantaranya tiba-tiba aja buyar. yes, because a little piece get lost. dan siapa yang bisa menahan atau mencabut itu kalau bukan tangannya Sang Pencipta?

ternyata, di hidup ini emang banyak banget ya yang ga rasional.

Senin, 09 September 2013

dont read.

home is a place where people want to go back and stay. if noone want to, it is not home. it is another 'h', hell.

my old home was better. the past was alot better than this. but, you know, life must go on, dude. you cant die just because you want to. you just cant.

Kamis, 29 Agustus 2013

hanya basa-basi

intuisiku sudah mati. atau tidak pernah hidup? sejak bisa berpikir, terus dijejali bahwa hidup hanya ada yang salah dan yang benar. tidak pernah ada abu-abu. yang saat ini benar, nanti juga akan benar, selamanya benar. nyatanya tidak begitu.

dengan mudahnya aku menjauh dan membatasi aku dari apa yang berbeda dari yang dulu dikata benar. menjauh. saking jauhnya, hingga tenggelam dalam kebenaran semu. semu. tak pernah berusaha menilik apa benar hati nurani manusia memang pernah bekerja diantara kita. apa sebenarnya, kita hanya mengagung-agungkan keegoisan diri dan kelompok dengan mengobarkan kata-kata kebermanfaatan yang semu pula, lupa atas penghargaan suci perasaan damai diantara sesama manusia dan alam sekitarnya. lupa. atau tidak pernah paham atasnya.

Minggu, 07 Juli 2013

agak absurd sih..

oke, hal ini mungkin agak........sensitif. entah kenapa semua orang jadi teramat sangat sensitif ketika bicara agama. suatu ketika, saya lagi duduk di halte kampus, nunggu bikun bersama seorang teman. dia seorang jurnalis yang keren, ikutan UKM jurnalistik di kampus dan dia juga kerja untuk rektorat. pokoknya soal jurnalisme dia kece banget lah. dia cerita tentang pengalamannya meliput sebuah acara, saya udah lupa itu acara apa, pokoknya dia akhirnya tahu kalau ternyata "orang-orang yang di KTPnya agamanya  kosong, ga bisa dapet fasilitas dari negara". saya melongo, sama seperti dia yang juga saat itu melongo. ternyata kita harus menulis agama di KTP dan hanya pada agama-agama yang diakui negara saja, 6 agama besar(?), yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Khong Hu Cu. mereka yang beragama selain itu, punya dua pilihan, tidak menulis agama dan tidak mendapat fasilitas negara (bahkan pendidikan?) atau memilih keenam agama yang diakui negara. apa yang ada di dalam pikiranmu?

yang pertama, rasanya ga adil aja. memeluk agama itu kan hak semua orang. kenapa harus dibatasi semacam itu? kan katanya tujuan negara mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi kalau tidak menganut salah satu dari ke-6 agama yang diakui akhirnya ga boleh sekolah, ga boleh cerdas dong? too much discrimination. alhamdulillah kita-kita ini jadi anak yang hidupnya mulus-mulus aja, bapak ibu agamanya yang diakui negara #eh.

yang kedua, agak absurd sih. jadi apa emang sebenernya Indonesia ini salah satu negara muslim terbesar di dunia? apa jangan-jangan banyakan yang Islam-nya KTP aja, literally Islam KTP, karena sebenarnya agama mereka bukan agama yang diakui. saya habis lihat salah satu video yang menyebutkan kalau ada kok orang yang pake Islam di KTP tapi aslinya bahkan Yahudi.

kapan hari lagi cari duit buat acara, akhirnya sampai lah di sebuah acara debat tentang Ah**diyah. yang dari Ah**diyah bilang mereka Islam, yang dari luar aliran bilang bukan karena nabi dan kitabnya bukan Rasulullah dan Al Quran. tiba-tiba jadi mikir, jangan-jangan mau menyebut termasuk Islam karena alasan di atas tadi...kalau ga nulis Islam nanti ga dapet fasilitas negara... hmm rumit .__.

Minggu, 09 Juni 2013

spesial malam minggu, malam minggu spesial?

Malam minggu ini ga njamur di kos atau njamur di rumah sodara. Tapi njamur di st*rb*cks, keadaan yang luar biasa. Perbincangan yang tidak biasa. Atmosfer yang berbeda. No, no, aku bukan lagi cerita aku jatuh cinta -_-.

Aku tidak banyak bicara, hanya menjawab ketika ditanya. Tidak melontarkan gurauan, hanya tertawa ketika yang lain tertawa. Lebih banyak berselancar, katarsis. Berusaha mengalihkan perhatian dan meyakinkan paru-paruku bertahan, 'aku tidak akan kehabisan oksigen'. Dibesarkan oleh orang berasap ternyata kalau sudah steril juga ga tahan-tahan amat hahaha.

Pembicaraan yang aneh. Biasa sih. Tapi ternyata begitu ya, kalau dengar dari pembicaraan orang tak dikenal, televisi, kita biasa. Jadi biasa. Jadi toleran. Tapi kalau diletupkan sendiri di samping telinga pribadi......tiba tiba jadi lebih menakutkan lagi.

Mendapati bahwa garis-garis yang dibuat ternyata jauh berbeda. Bertanya, lalu darimana aku belajar jadi begini? Siapa yang menancapkan batas putih dan hitam ini di kepalaku? Siapa? Atau apa? Darimana? Aku tak menemukan jawabannya. Tidak.

Being a good woman is not only about find a good man. Being a good woman is about being a good teacher for generations next to them.

Published with Blogger-droid v2.0.6

Sabtu, 09 Maret 2013

malu lah sama diri sendiri.

"justru aku menyesal karena melewatkan hal-hal yang ada di smala ini. bener ya kata orang, kalau 20 tahun lagi kita bakal lebih menyesal dengan apa yang tidak kita lakukan daripada dengan apa yang sudah kita lakukan. makanya kesalahan ini jangan diulangi ya, kawan-kawan. kalau memang ada keinginan, diyakini saja, kalau memang ikhlas menjalani pasti akan dimudahkan jalannya sama Tuhan. menyesal rasanya gak manis, jadi jangan coba-coba deh." - Smala-is-me pg. 5-

kutipan di atas...aku sendiri yang menulisnya. proyek bersama teman-teman smalane angkatan 2012. rasanya ingin menampar diri sendiri. berani-beraninya menulis tentang kesempatan dan penyesalan agar orang-orang tidak merasakan hal yang sama sedangkan sekarang aku maju mundur untuk kesempatan yang di depan mata. bodohnya. pengecutnya aku ini.

lupa ya kalau hidup nyata sudah sangat dekat? tapi masih mau memanjakan diri di dalam kubangan rasa takut lebih lama.

aku kangen smala.

aku...

aku ternyata pengecut. aku ternyata penakut. aku ternyata egois.
ternyata aku tidak berani mengambil resiko-resiko besar. ternyata aku takut akan mengecewakan orang-orang yang sudah berharap dan percaya. ternyata aku hanya bisa mematung...diam meskipun ditarik agar berjalan ke depan. aku berhenti, karena aku pengecut dan penakut. karena aku takut tidak bisa lebih baik darimu. lebih baik dari yang lain. aku takut semua orang tidak suka dengan hasilku. aku takut bahwa nanti aku sendiri tidak akan memenuhi standarku yang tinggi.

ternyata aku egois. aku di sini untuk diriku sendiri. bukan untuk orang lain. bukan alasan-alaan normatif untuk menolong orang. tapi karena aku ingin belajar, untuk diriku sendiri. coba lihat, sedih gak kalau misalnya ga bisa ada disini? sedih? berarti kita masih egois.

Kamis, 21 Februari 2013

x


























here

kindly visit mine, Candies Of Mine 

the message i am sending

Kamis, 20 Desember 2012

ngelirik jawaban temen

"to, kamu nyontek gak tadi?"
"enggak. ngapain"
"tuh kaaaan, to. aku sebel banget tadi pada nyontek gitu. huhu"
"yaudah kan yang penting kualitas kamu. kalo ditanya dosen, jawab aja ya segini kemampuan saya, idealisme saya ga sama kayak buku."

UAS pengantar sosiologi hari ini paraaaaah. tapi yaudahlah, berdoa aja.

aku mungkin cuma bisa mastiin sekitar 4 soal, alias nilai 40. yang lain? gak tau deh. terserah Allah. ya emang se salah, aku juga kurang ngatur waktu belajar, ngantukan, ketiduran terus dsb dsb. yaudah mau apa?

aku duduk di sebelah meja di depannya pengawas. telat. sebelahku anak pinter, rajin banget. apalagi kalo kuis2, wuuuu yang paling sering review sblm jam masuk kelas, stlh itu mesti minta dosen buat ngasi  koreksian. tapi tadi dia nanya aku.......aku juga gatau jawabannya sih wkwkwkwk. tapi, cuma, yaowoh kon lho isok sing liyo2, aku lho malah ga isok akeh. tau gak sih tadi sepanjang ujian aku mikir apa? "nok, ojok nyontek nok, ojok. aku gak gelem mangan hasil nyontekan." aku mikir gitu teruuus, dari awal. munafik se, hehe. aku juga ngaku, selama SMA kayaknya rapotku hasil nyontek. tapi setelah UNAS, wes ah, aku tobat. rasanya bersalah sama temen2 yang sudah duluan jujur. rasanya gregeten ngelihat temen2 nawarin jokian, oalah, gini rasanya jadi orang jujur ketika ngelihat orang ga jujur. akhirnya sampe sekarang, aku selalu nancepin itu dipikiran, jangan titip absen, jangan nyontek, jangan makanin diri sendiri dari hasil kerja yang ngelamarnya pake hasil IP contekan. jangan. jangan.

bismillah semoga isok koyok ngene terus.

Minggu, 16 Desember 2012

manusia

bahwa tidak ada seorang manusiapun yang memiliki hatinya. hati manusia milik Tuhan. semua perasaan dibuat oleh Tuhan. manusia tidak pernah memiliki. sedetikpun. tidak memiliki apapun. dari segenap bagian dunia. bukan hatinya sendiri. bukan tubuhnya. bukan jantung yang bedegup untuknya. bukan otaknya. bukan kedua orang tuanya.

kita terus memohon untuk sesuatu yang bukan juga milik kita. kita terus meminta. kita terus memerintah agar Tuhan menuruti kita. menangis, seakan lemah. padahal memaksa.

lupa kalau bukan apa-apa. lupa kalau tidak pernah punya apa-apa. hanya menumpang. hanya meminjam. bahkan raga bisa saja dihancurkan kalau mau. bahkan jiwa bisa saja diambil kalau ingin.

lupa bilang terima kasih.

Selasa, 06 November 2012

tiba-tiba saja

tiba-tiba saja.. saya merasa...berubah. lah. kan dari dulu mbak? iya sih, perubahan memang selalu terjadi. tapi tiba-tiba saja saya rindu sama saya yang dulu. saya rindu sama saya yang suka cemberut sama hal-hal yang ga sesuai sama yang saya mau, egois ya? bukan di situnya, tapi berarti dulu saya punya standar kesempurnaan yang saya buat sendiri, dan berusaha saya penuhi. entah kenapa sekarang saya seperti tidak punya standar apapun. saya mengalir seperti air. air selokan.
saya rindu sama saya yang talkative, selalu ngomong apa yang ada di dalem hati. suka ga suka. sreg ga sreg. sekarang saya suka mendem. apa apa dikonsumsi sendiri. takut nyakitin orang lain katanya. selalu positive thinking, nerimo. eh, tapi saya jadi ga kritis lagi? ga kreatif lagi ngelihat lain-lainnya? lagi-lagi saya biarin ngalir kayak air. air got.
saya tahu ga ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. manusia terus berubah. dunia selalu mengikuti. alam bergantung pada ulah manusia, menjaga atau merusak. tiba-tiba saja saya memaki, aaah! kenapa saya tidak lagi seperti dulu. padahal menjadi begini dulu juga maunya saya sendiri. katanya mau lebih sabar, katanya mau lebih menyenangkan orang lain.

ah mungkin saya hanya kurang ikhlas.

perubahan menjadi lebih baik kan memang sampai mati? :)

Minggu, 14 Oktober 2012

kalau bukan kamu sendiri, lalu siapa?

kalau bukan kamu sendiri yang mengusahakan kebahagiaanmu, lalu siapa? kenapa masih terus mengutuk kegelapan? ingat bahwa ada di sini adalah pilihanmu.

aku tak bisa mengusahakan kebahagiaan untukmu. aku juga mengusahakan kebahagiaan untukku sendiri. aku saja masih kelimpungan. masih suka bengong ketika berjalan sendiri.

siapa bilang ini mudah? bukan aku. siapa bilang ini tidak mungkin? bukan aku. aku hanya tau ini mungkin meskipun susah. iya, ini mungkin. kamu bahagia itu masih mungkin terjadi.

sendirian itu karena kita tidak menyalakan lilin. karena kita terus berada di ruang gelap. coba nyalakan. coba lihat bahwa masih ada sekian banyak orang menunggu.

kalau bukan kamu yang mengusahakan kebahagiaanmu, lalu siapa? aku tidak bisa. tidak ada yang bisa, kalau bukan kamu sendiri. bahagia itu tanggung jawabmu. perasaan yang di hati itu, dititipkan Tuhan padamu.