Minggu, 02 Maret 2025

Seni Menyesal?

Barangkali hidup itu soal seni menyesal.

If you marry, you will regret it; if you do not marry, you will also regret it; if you marry or do not marry, you will regret both. - Søren Kierkegaard

Kalau dipikirkan lebih dalam, ini bukan hanya soal menikah. Apapun juga bisa begitu. Bekerja di sini atau tidak di sini. Tinggal di sini atau di sana. Karena, nyatanya, tidak ada hal yang benar-benar sempurna. Jadi penyesalan itu pasti ada. 

Sakit, sedih, gundah, pasti akan muncul di sana sini. Begitu juga senang, haru, gairah. Mereka juga akan muncul di perjalanan panjang.

Jadi barangkali hidup ini perkara seni menyesal. Maupun seni-seni perasaan yang lain. Bagaimana kita mengolahnya. Bagaimana membuat ia terasa lebih kecil daripada perasaan-perasaan lain. Atau mau perasaan yang mana yang dibesarkan?

Selama ini, aku selalu takut menyesali. Menyesali A, B, sampai ZZZ. Padahal bisa jadi banyak perasaan-perasaan lain yang akan kurasakan.

Sama seperti kemampuan lainnya, menikmati rasa juga butuh latihan. Tak ujug-ujug pandai dan mulus dijalankan. Barangkali memang begitu, manusia hanya wajib belajar dan berlatih seumur hidup. Termasuk perkara menyesali, bahagia, dan bersyukur.

Senin, 29 April 2024

Kumpulan Kepingan

Tidak ada dari kita yang berdiri dengan sendirinya. Semua bagian dari aku adalah bagian dari orang lain. Bagian dari kumpulan masa-masa. Bagian dari banyak tempat. Tak pernah kita berjalan dan pulang dengan tangan kosong. Secuil, sejengkal, segenggam. Orang, masa, tempat. Sekumpulannya menjadi aku yang sekarang.

Aku punya kuning langsat nenekku. Aku punya kecerdikan eyang putriku. Aku punya temperamen ayahku. Aku punya keras kepala ibuku. Aku punya kebiasaan aneh eyang laki-lakiku. Aku punya wajah galak kakekku. Aku belajar mengumpulkan serpihan sabar kakakku.

Minuman favoritku pernah jadi favorit orang lain. Celana favoritku pernah jadi celana pilihan orang lain. Jam tangan kesukaanku pernah jadi kesukaan orang lain. Buku-buku yang kubaca, pernah jadi kawan berpikir orang lain.

Serpihan-serpihan milik orang lain, entah terbawa dengan sengaja atau tidak, kini jadi milikku. Jadi bekalku. Sehari-hari kubawa melangkah, menyusuri jalan-jalan aneh di tengah kota.

Bukankah rasanya mudah, jika menyadari apa yang milik kita sebenarnya hanya kumpulan serpihan? Tak pernah benar-benar utuh. Maka genggaman tangan ini harusnya tak perlu sekuat itu. Jika waktunya terlepas, maka terhempas pula ia.

Bukankah lebih bermakna, jika menyadari bahwa persimpangan jalan tak pernah benar-benar jadi akhir dari sesuatu? Bahwa ada kebiasaan, kenangan, pesan, yang selalu dibawa satu sama lain hingga ..... entah kapan. Bahwa tidak semua yang kita jalani jadi sepenuhnya sia-sia, saat sebuah masa harus selesai.

Kita hanya menyusun puzzle dengan pecahan-pecahan yang ada. Beberapa mungkin tidak pas satu sama lain. Harus ada bagian yang dipotong atau dihaluskan. Tapi, bagian hidup ini hanya bagian dari yang lain.

Terima kasih, untuk kamu, untuk waktu, untuk ruang.

Sabtu, 27 April 2024

Mad girl.

I don't remember the last time I wasn't mad. Turns out it's true what my friend told me years ago. I am carrying a lot of anger as a sign of protest to life. To a lot of stuff around me. To the inequality that happened for very long time. To stuff that weighing on me and my family for years. To bad people who hurt people I love.

As I grow, I watch how the world works and it sucks. Like how can some people be greedy enough and get whatever they want? How can the others work thrice as much and still being blindsided? Ugh.

Carrying anger all the time is tiring. And yet sometimes I wonder why I am so tired. Like I often forget how mad I am.


But tbh, as a person who likely to be mad and thinks constantly, I look younger than my actual age. HAHAHAHAHA. I guess it runs in the family.

Selasa, 23 Januari 2024

Huh?

Sometimes I wonder... This is it, isn't it? I wonder if he's genuinely happy to be with me.. I mean look at that face. The eyes, the smile, the laughter. Look at those efforts. Look how he put up with all my craziness and insecurity! Hahahaha. Sometimes I wonder if he is really happy, but the way he stick around me after all that. Maybe, it is true that he loves me. More than anyone anticipated, ever.

Because at first, I thought it just a fling. Cute, fresh, and forgetful. But, no. It got serious after that.

The way he laughed at my joke. I mean it's not that funny! But I like his laughter. I bet he likes my laughter too.

The way his eyes spark when something looks interesting. Or excited telling me story even when I don't really understand it.

The way he captured things through photos. He sneakily snap some photos of me. With my hair look like crap, or looking serious at my phone. Lol.

The way he surprised me by buying me stuff. It. is. cute. So. damn. cute. Like....how can you come up with that?? Hahaha.

Well, maybe it's my insecurity. But I guess, I write it so I can read it when I forget how he loves me.

Selasa, 28 November 2023

Hutang Waktu

Kita berhutang waktu satu sama lain, katamu. Aku tertawa. Bagaimana mungkin? Aku sepakat kalau waktu memang mata uang. Kita bisa membeli kehangatan dan keintiman dengan waktu. Namun seberapa besar daya yang kita punya, selamanya hutang waktu itu tak akan bisa dibayar. Tak ada orang yang bisa memutar waktu kembali ke masa lalu, kemudian membayar semua hutang-hutang itu.

Membayar hutang waktu, katamu. Hah! Bagaimana mungkin? Coba jelaskan padaku. Kalau bisa, ayo kita bayar semua hutang-hutang itu. Waktu yang kita janjikan satu sama lain. Tapi tak ditepati.

Ayo kita hentikan waktu. Supaya tak makin bertumpuk. Hutang-hutang tak terbayar di dunia ini.